DIREKTUR Rumah Politik Indonesia Fernando Emas mengatakan, masyarakat Indonesia masih berharap kasus penyiraman terhadap aktivitas KontraS Andrie Yunus akan dilakukan secara tuntas dan terang benderang tanpa ada intervensi dari pihak manapun.
“Sangat kuat dugaan dan kecurigaan masyarakat bahwa penyiraman terhadap Andrie Yunus karena kritiknya terkait dengan supremasi sipil di Indonesia yang sepertinya mengusik kenyamanan salah satu institusi negara. Mungkin mereka sudah sangat menikmati jabatan di ranah sipil yang dirampas secara konstitusi,” ujarnya Rabu 1 April 2026.
“Saya meyakini siapapun yang menjadi aktor intelektual dan para pelaku penyiraman terhadap Andrie Yunus adalah para pecundang dan anti demokrasi karena tidak mau di kritik dan dievaluasi”.
Menurutnya, sebagai institusi yang bersumber dari APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) seharusnya bisa menerima kritik dari siapapun dan sekeras apapun. Kalau tidak mau di kritik dan dievaluasi ya sebaiknya jadi Ormas (Organisasi Masyarakat) saja.
“Kalau memang benar dan berjalan sesuai dengan Konstitusi kenapa harus takut atau bahkan anti terhadap kritik. Seharusnya mereka sadar, bahwa anggaran yang mereka nikmati berasal dari pajak rakyat sehingga seharusnya dijadikan kawan dalam membangun Indonesia, bukan lawan,” terang Fernando.
Fernando berharap Prabowo Subianto tetap seperti “macan” dalam menegakkan hukum dinegara ini.
“Saya berharap Presiden Prabowo Subianto tidak akan labil dalam menegakkan hukum terkait penyiraman keras Andrie Yunus walaupun mungkin harus menyingkirkan orang disekitarnya atau membersihkan institusi yang dicintai karena pernah membesarkan namanya,” pungkas Fernando. (Tan)








